Mengingat Ruh Perjuangan, Bukan Sekadar Ajang Formalitas
Garda News ~ Bandung

Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemantau Kinerja Aparatur Negara, LSM_PENJARA kembali digelar. Forum ini seharusnya menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran organisasi sosial dalam membela kepentingan rakyat, menjaga nilai keadilan, dan mengawal demokrasi. Namun, pertanyaan mendasar pun muncul: apakah Rakornas kali ini benar-benar memelihara ruh perjuangan LSM, atau justru terjebak menjadi panggung formalitas yang kehilangan makna?
LSM: Lahir dari Keprihatinan, Bukan untuk Profit
Sejarah mencatat, LSM tumbuh dari keprihatinan terhadap ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam masa-masa sulit, ketika suara rakyat dibungkam, LSM hadir sebagai kekuatan alternatif yang berani bersuara.
Namun, di era modern ini, wajah gerakan sosial mulai beragam. Ada yang tetap setia mengusung advokasi, pendidikan masyarakat, dan pemberdayaan akar rumput. Tetapi ada pula yang terjebak pada praktik transaksional—menjadikan LSM sekadar “pabrik proyek” yang mengejar keuntungan.
“Gerakan LSM itu bukan profit minded. Kita lahir untuk memperjuangkan kemanusiaan, bukan sekadar mencari proyek,” tegas djohar, salah satu pengurus DPD LSM_PENJARA, Jawa Barat.
Ia menambahkan, “Kalau orientasi kita hanya pada keuntungan, maka hilanglah makna perjuangan. LSM bukan korporasi. LSM adalah rumah moral.”
Ketika Gerakan Sosial Tergoda Kekuasaan dan Uang
Fenomena pragmatisme dalam gerakan sosial tidak datang tiba-tiba. Ada faktor sistemik yang mendorongnya: birokratisasi bantuan, kompetisi program donor, hingga penetrasi politik ke ruang-ruang LSM. Akibatnya, sebagian aktivis sibuk mengejar proyek ketimbang memperjuangkan rakyat.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat sinis. Mereka bertanya: apakah LSM masih bisa dipercaya sebagai kekuatan moral? Pertanyaan ini wajar, sebab tidak sedikit kasus di mana LSM justru kehilangan daya kritis karena terkooptasi kepentingan elite.
Padahal, mandat awal LSM jelas: menjadi penyeimbang, pengawas, sekaligus penggerak perubahan. Jika mandat ini dikorbankan demi kepentingan sesaat, maka hilanglah kepercayaan publik.
Rakornas: Ajang Kumpul, atau Titik Balik?
Rakornas LSM seharusnya bukan sekadar rutinitas. Ia harus menjadi momentum evaluasi—bukan hanya laporan kegiatan dan pertemuan seremonial. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang penuh tantangan: korupsi struktural, ketimpangan sosial, kriminalisasi aktivis, dan maraknya praktik politik uang.
“Rakornas harus menjadi titik balik, bukan sekadar ajang kumpul. Ini kesempatan kita mengembalikan marwah gerakan sosial, agar tetap berpihak pada rakyat,” ujar Joko Machmudi Hardiman.
Rakornas juga harus menjawab persoalan mendasar: bagaimana menghindari komersialisasi gerakan sosial? Bagaimana memastikan LSM tidak tergelincir menjadi alat politik praktis? Bagaimana membangun jejaring yang solid tanpa kehilangan independensi?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan LSM di Indonesia.
Kembali ke Ruh: Cinta Kasih dan Keberpihakan. Gerakan LSM sejatinya berakar pada nilai-nilai kemanusiaan: cinta kasih, solidaritas, dan keberpihakan pada yang lemah. Jika nilai ini hilang, maka LSM hanya akan menjadi organisasi kosong—penuh nama, minim makna.
Oleh karena itu, Rakornas harus melahirkan komitmen bersama: mengembalikan LSM ke akar perjuangan. Bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk mengejar jabatan, tetapi untuk mengabdi pada masyarakat.
“Kalau kita tidak kembali ke nilai-nilai itu, maka Rakornas hanya akan melahirkan jargon. Kita harus berani melawan arus pragmatisme dan kembali ke misi sosial,” tegas djohar.
Tiga Agenda Penting untuk LSM_PENJARA
Agar Rakornas tidak menjadi formalitas, ada tiga agenda penting yang harus diusung:
1. Deklarasi Anti-Komersialisasi Gerakan Sosial. LSM PENJARA harus menegaskan komitmen non-profit dan menghindari praktik menjadikan program sosial sebagai proyek bisnis.
2. Peta Jalan Advokasi dan Pemberdayaan. Hasil Rakornas harus memuat agenda konkret untuk advokasi rakyat, pendidikan politik, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
3. Etika Gerakan dan Transparansi LSM perlu membangun standar etika bersama, menjaga akuntabilitas, dan menolak intervensi kepentingan politik yang merusak integritas gerakan.
Momentum untuk Bangkit, Rakornas LSM_PENJARA, bukan sekadar pertemuan. Ia adalah cermin komitmen kita. Apakah kita masih setia pada cita-cita awal, atau menyerah pada arus pragmatisme? Apakah kita menjaga ruh perjuangan, atau menjualnya demi kepentingan sesaat?
“Kembali ke akar. Kembali ke cinta kasih. Kembali ke misi sosial. Itulah jalan kita. Jika LSM_PENJARA kehilangan ruh, maka hilanglah harapan rakyat,” tutup djohar.
(( Djohar ))
Editor (( Denz ))

