Dua Proyek Rehabilitasi SDN di Bandung “Tanpa Nahkoda”: Pelaksana CV Berbeda Sama-sama Menghilang, Pengawasan Disdik Lemah
Garda News ~ Kab. Bandung,
Selasa, 2, Juni 2026

Ironis. Dua proyek rehabilitasi ruang kelas SDN di wilayah berbeda di Kab Bandung justru punya nasib sama: ditinggal pelaksana lapangan. CV berbeda, kelalaian sama, dan Dinas Pendidikan Kab Bandung terkesan lemah pengawasan.
1. SDN Cibeet 1, Kec. Ibun CV. Aya jarya Mandiri. Rp. 110. 966. 450
2. SDN Cijagra 01, Kec. Paseh – CV Sundiah Putra, Rp 110.999.434, 60 HK


Pantauan gabungan ormas + wartawan di kedua lokasi menemukan benang merah yang bikin geram:
Fakta Pedas di Lapangan:
1. Pelaksana Lapangan Kompak “Gaib”
Meski beda CV dan beda lokasi, pelaksana lapangan kedua proyek punya sifat sama: tidak pernah nongol ke lokasi. Saat dicari untuk konfirmasi, jawabannya nihil. Ada apa?
2. “Alergi” Ormas & Wartawan
Bukannya terbuka, pelaksana justru terkesan menghindar dari kontrol sosial. “Alergi ormas wartawan” jadi istilah warga. Padahal keterbukaan itu wajib. Proyek APBD bukan proyek pribadi.
3. Pekerjaan Rehabilitasi Dibiarkan Jalan Sendiri
Tanpa nahkoda di lapangan, pekerjaan dibiarkan dikerjakan kuli/buruh harian tanpa arahan teknis. Hasilnya: material berserakan, struktur bekisting asal-asalan, puing tidak diamankan. Di SDN Cijagra 01, bekas bongkaran tembok dibiarkan terbuka. Ini proyek atau “proyek mangkrak”?
4. Pengawasan Disdik Kab Bandung Pertanyaan Besar
Papan proyek SDN Cijagra 01 jelas terpasang: “Dinas Pendidikan Kab Bandung”. Tapi ke mana fungsi PPTK dan pengawas lapangan dari dinas? Kalau pelaksana CV bisa seenaknya menghilang, berarti SOP pengawasan dinas jebol. Jangan-jangan proyek Rp 110 juta lebih itu cuma diserahin, terus ditinggal?
Warga, komite sekolah, dan BPD setempat menuntut:
1. Blacklist CV nakal yang pelaksananya kabur dari tanggung jawab
2. Copot + sanksi PPTK/Pengawas Disdik yang lalai
3. Audit mutu kedua proyek sebelum PHO. Jangan sampai gedung baru ambruk karena pondasi dikerjain asal.
“Uang rakyat Rp 110 juta bukan buat ngasih CV mangkir. Anak kami butuh ruang kelas aman, bukan tumpukan puing” tegas warga Paseh.
Hingga berita ini naik, Kadisdik Kab Bandung dan kedua CV belum berani klarifikasi. Apakah mereka juga “alergi” dikritik publik?
Pewarta (( Tim ))
Editor (( Denz ))

