Garda News ~ Pekanbaru

Kebudayaan merupakan payung negeri, budaya dijaga sebagai jati diri. Maka tumbuhkan semangat anak negeri, untuk merawat dan menjaga budaya di negeri sendiri. Sebagai wujud rasa syukur Bumi Lancang Kuning yang dianugerahi berbagai adat budaya, Pemerintah Provinsi Riau menggelar Pawai Budaya Riau di lapangan Gedung Daerah, Sabtu (20/8). Pawai Budaya ini diselenggarakan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke-77 dan Hari Jadi Provinsi Riau Ke-65.

Berbagai macam pertunjukan kesenian dari berbagai daerah mulai dari dari Sabang sampai Merauke melebur menjadi satu dalam Pawai Budaya Riau yang turut dihadiri berbagai paguyuban dan masyarakat adat di Indonesia ini. Diantaranya adalah Melayu Riau, Tor-Tor dari Batak, Tari Saman dari Aceh, Reog Ponorogo, Lompat Batu dari Nias, Silat Komango dari Minangkabau, Barongsai dari PSMTI, Tari Kecak Bali dan banyak lagi yang lainnya.

“Pawai Budaya ini diikuti oleh warga Riau yang berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesatuan dan persatuan di tengah masyarakat Riau. Rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong adalah kekuatan masyarakat Riau yang harus tetap dijaga,” ucap Gubernur Riau, Syamsuar saat membuka acara. Menurutnya, kegiatan Pawai Budaya Tahun 2022 ini diikuti sedikitnya 4.000-an warga Riau dari berbagai suku. Mereka menampilkan adat istiadat dari daerahnya masing-masing.

Kemeriahan pawai budaya diawali dengan Tarian Spirit of Malay, kreasi baru Tari Zapin Melayu Riau. Penampilan yang ditunggu-tunggu adalah aksi Marching Band Bahana Cantika Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru. Aksi ini sangat menghebohkan karena para penonton yang hadir tak menyangka bahwa personil marching band adalah 63 orang wanita yang merupakan warga binaan lapas. Pamer skil dan atraksi memukau mereka peragakan, penonton terkesima menyaksikan para WBP yang sudah dilatih sejak Juni 2020 dibawah bimbingan Kepala Lapas Perempuan Pekanbaru, Desi Andriyani, dan dibawah pengawasan Kepala Pengamanan Lapas Perempuan Pekanbaru, Ema Pansi Tarigan.

Hadirin semakin bersorak tatkala Syamsuar bersama sang istri, Misnarni Syamsuar, turut bergabung dalam tim marching band. Syamsuar menabuh drum band, sedangkan Misnarni berperan sebagai Mayoret. Tak ada rasa canggung dan kaku. Keduanya pun bernostalgia, mengenang saat masa muda ketika mereka pernah menjadi bagian dari personel marching band di era tahun 80-an. “Awalnya saya terpukau melihat aksi warga binaan Lapas Perempuan Pekanbaru ini. Saya tak menyangka mereka begitu ahli dan kompak dalam memainkan marching band. Saya baru tahu, ternyata banyak kegiatan pembinaan yang bermanfaat di Lapas Perempuan Pekanbaru. Semoga program pembinaan disana berjalan lancar dan maksimal, saya siap mendukung,” kata Syamsuar lagi. Setelah diberi penjelasan oleh Kalapas Perempuan, Gubernur Riau menyampaikan bahwa selain marching band dan kegiatan kesenian seperti olah vokal dan fashion show, ada pula kegiatan menjahit, salon kecantikan, membuat tempe, masak-memasak/catering makanan, pertanian dan hidroponik, dan banyak lagi lainnya yang menjadi kegiatan rutin WBP dalam menjalani masa hukuman.

Rasa kagum yang disampaikan Gubernur Riau terdengar pula ke telinga Kepala Kanwil Kemenkumham Riau, Mhd. Jahari Sitepu. Jahari pun turut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Gubernur Riau beserta Pemerintah Provinsi Riau yang selama ini telah mendukung dan bekerjasama dengan pihak Kemenkumham Riau. “Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa keberhasilan pembinaan bagi WBP bukan hanya tanggungjawab pihak Kemenkumham saja. Tapi butuh peranan dan dukungan dari semua pihak, mulai dari keluarga WBP, masyarakat, dan pemerintah provinsi. Semoga mereka mendapatkan kehiudpan yang lebih baik setelah bebas nanti,” harap Jahari.

(A-R/Rilis)

editor ( denz )